Seluma – Di antara hamparan hijau Seluma–Talo, ada sebuah nama yang bagi sebagian orang mungkin terdengar seperti legenda, namun bagi masyarakat setempat ia adalah bagian dari ingatan yang hidup: Puyang Rajo Api. Sebuah nama yang diwariskan lewat cerita, bisik petuah orang tua, dan jejak makam yang masih dijaga hingga hari ini.
Menariknya, nama itu kini tak lagi sekadar bagian dari cerita turun-temurun. Makam Puyang Rajo Api resmi tercatat dalam dokumen RPJMD Seluma 2021–2026, seolah menjadi jembatan yang menyambungkan masa lalu dengan arah pembangunan masa depan. Pemerintah daerah mengakui keberadaannya sebagai salah satu titik budaya yang patut dilestarikan.
Bagi masyarakat Seluma, Puyang Rajo Api bukanlah sosok yang didewakan, bukan pula tokoh sejarah yang tercatat dalam buku-buku sekolah. Ia lebih mirip penanda identitas, titik di mana ingatan kolektif tentang asal usul, adat, dan kebersamaan terkait. Makamnya adalah tempat di mana anak cucu Serawai belajar tentang rasa hormat, tentang bagaimana seharusnya kita memandang sejarah dengan hati yang lapang.
Beberapa warga tua di Talo mengatakan, setiap melewati kawasan makam, mereka selalu diingatkan untuk menjaga tutur. Adab yang diwariskan, bukan untuk menakutkan, tetapi agar manusia tetap rendah hati di hadapan alam dan sejarahnya. “Dulu orang tua kami bilang, di situ ada kisah. Jaga lisan, jaga langkah,” ujar seorang tetua kampung.
Masuknya makam leluhur ini ke dalam dokumen resmi pemerintah memberikan harapan baru. Bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal mencatat cerita lama, tetapi soal memastikan generasi hari ini dan esok masih punya pegangan: akar yang membuat mereka tidak tercerabut dari tanah kelahiran.
Pemerintah menilai, situs budaya seperti Makam Puyang Rajo Api memiliki nilai strategis—bukan hanya sebagai potensi wisata edukatif, tetapi sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat dengan sejarah mereka sendiri. Ketika anak-anak muda berjalan ke lokasi itu suatu hari nanti, mereka tidak hanya melihat batu dan tanah. Mereka akan melihat perjalanan panjang leluhur yang telah memberi identitas pada Talo dan Seluma.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika pembangunan sering berlomba dengan waktu, kehadiran situs budaya seperti ini mengingatkan kita bahwa ada hal-hal yang justru harus dijaga, bukan ditinggalkan. Mungkin makam itu sederhana, mungkin tidak megah. Namun dari ringkasnya terpancar pesan: selama kita menjaga warisan ini, kita masih memiliki rumah, cerita, dan sejarah untuk pulang.
Makam Puyang Rajo Api bukan sekadar titik di peta Seluma. Ia menyala kecil dari masa lalu, yang terus menyala agar kita tidak lupa siapa diri kita.

